Karya : Bayu Saputra siswa SMA 1 Dusun Tengah, Barito Timur, Kalimantan Tengah
BALADA SI COKY
Semua orang pasti pernah mengecap dunia pendidikan dan bagi kebanyakan orang dunia pendidikan itu penting bahkan ada orang yang rela berkorban demi menyekolahkan anaknya.
Tapi tidak bagiku,dunia pendidikan hanyalah hal biasa bagi dirku, toh….. aku sudah punya harta yang banyak dan semua yang ku mau pasti selalu ada jadi aku tidak terlalu mau memikirkan pendidikan terlalu berlebihan.namaku coky aku sekarang duduk dikelas XII SMA 28, yaitu SMA terfavorit di jakarta dan sekolah yang aku tempati sekarang adalah sekolah yang di dirikan oleh ayahku.Aku punya seorang teman namanya Andre dan Kevin, kelakuan mereka sama seperti diriku.
Oh ya….disekolah ku ada satu orang anak yg tidak aku sukai Dinda namanya.Dia adalah anak dari keluarga yang kurang mampu, ayahnya saja seorang yang pekerjaannya hanya tukang becak dan itu semua membuat Dinda lebih mengutamakn sekolahnya.Dia bisa masuk sekolah ini pun karna beasiswa dari sekolah maka dari itu sikapnya beda dngn diriku.
Hari ini aku malas sekali untuk sekolah dan biasa……….kalo aku lagi malas untuk sekolah aku pasti pergi dengan teman-teman ku ke tempat di mana biasa kami nongkrong.bagiku sekolah itu tak penting hanya membuang-buang waktu saja maka dari itu dalam seminggu paling 2 sampai 4 itu pun kadang-kadang aku bisa bolos.Pernah dulu aku ditegur oleh ayah tapi aku tak menggubrisnya malah aku berkata”harta kita masìh banyak ayah dan aku adalah pewaris tunggal”mereka terdiam mendengar itu. Aku melajukan kendaraan ku dengan nomor polisi DA 0005 KH. Tak berapa lama mobilku pun sampai disebuah tempat bermain bliard.di sana aku menghabiskan berjuta-juta uang bahkan berbotol-botol minuman keras ku minum dan aku selalu menang dalam permainan itu. Tak terasa malam pun kian larut jam menunjukan pukul 23.10 WIB dan dalam keadaan mabuk aku pun melajukan mobilku bersama teman-teman.
Dalam keadaan mabuk aku mencoba untuk mengetok pintu dan disana ku lihat seorang perempuan separuh baya membukakan pitntu dia adalah ibuku. Aku di popoh kekamar di sana ibuku membaringkan tubuhku di kasur,sambil melepaskan sepatuku setelah itu aku tak tau lagi apa yang terjadi.
Sang surya pun menampakkan dirinya,cahayanya seakan menyilaukan mataku,kulihat jam menunjukan pukul 07.36 segera aku bergegas mandi,ganti pakaian, sarapan dan pergi berangkat sekolah. Aku juga tak tau mengapa hari ini aku ingin ke sekolah,ya…..mungkin karena mood ku lagi baik. Tak berapa lama mobilku pun sampai dihalaman depan sekolah,langsung ku parkirkan mobilku di tempat biasa.ku lihat suasana sekolah nampak sepi, aku pun berjalan dengan santainya menuju kelas toh..tak ada yang berani memarahi ku. Aku pun teringat hari ini jam pertama adalah pak Seto, beliau adalah guru paling killer .disekolah ini.
AKu menuju kelas dengan santainya hingga aku tiba di depan pintu kulihat pak seto sedang menulis dipapan tulis. Aku masuk kelas dengan hati-hati dan tiba-tiba..? Bruk..Kakiku menyepak sebuah meja seiringan dengan itu pak Seto pun berbalik kebelakang sambil memelototiku
“Coky kenapa jam segini baru datang? Apa kamu gak tau ya jam berapa kamu harus masuk jam pelajaran saya?.”
Serentak hal itu membuat aku marah dan dengan nada keras aku pun memblas perkataannya
“Heh..Terserah gue donk mau masuk jam berapa? Masuk sekolah atau gak toh sekolah punya bapak saya.”
“Coky jaga mulutmu itu.”
Aku semakin marah
“Terserah bapak tapi kalau bapak berani menentang saya liat bapak gak bakal lama ngajar disni.” Pak Seto pun terdiam bahkan seisi ruangan ikut membisu dan bersamaan dengan itu loceng istirahat pun berbunyi, ku tinggal pak seto yang masih duduk dengan muka pucat.
Aku berjalan sepanjang kolidor dalam keadaan emosi yang masih belum labil tiba-tiba Bruk… Aku menyenggol bahu seseorang hingga menyebabkan bkunya jatuh berserakan ternyata permpuan itu adalah Dinda yang selama ini jadi musuh ku
“Eh klo jalan to pakai mata bukan pakai kaki” katanya
emosi ku semakin naik gara-gara perempuan ini hingga membuat aku ingin memukulnya dan tanpa sadar tangn ku pun melayang menuju mukanya tph mungkin nasibnya kali ini beruntung tiba-tiba saja teman ku Andre menangkap tanganku.Dinda pergi meninggalkan kami dengan wajah pucat dan menangis.Loceng masuk pun berbunyi aku segera masuk kelas dengan emosi yang tanpa batas.
Aku pulang dengan emosi yang masih tinggi dan tiba dirumah aku langsung merebahkan diriku diatas kasur tanpa ganti pakaian. Hari ini aku kacau pertama pak Seto lalu yang kedua Dinda “eggrhh…”tak lama aku pun tertidur. Malamnya aku pergi ke sebuah diskotik langgnanku kali ini tanpa sahabat-sahabatku.Disana aku memesan berbotol-botol minuman keras hingga membuat kepala ku berat,aku memutuskan untuk pulang hingga aku sampai dirumh dalam keadaan tak berdaya dan tersungkur diteras rumah.
Cahaya sang surya menyilaukan mata dan ku dengar bunyi dering telepon sayup-sayup. Aku memanggil bibi namun tak ada yg menyahut. Aku berjalan menuruni anak tangga sambil menggerutu
“siapa sih pagi-pagi buta kayak gini nelpon gak tau sopan-santun.”
ku angkat gagang telepon dan terdengar suara laki-laki yang agak parau
“benar ini rumahnya pak susanto?”
“ya benar ini anaknya.Ini siapa ya?”
“kami dari pihak kepolisian memberitahukn bahwa pak susanto terjerat kasus korupsi.”
aku tersungkr mendengarnya hingga membuat gagang telepon terlepas dari tanganku
“matilah riwatku”aku berjalan mencari ibu dan ku temukan beliau memasak didapur.Aku langsung menghampirinya
“ibu….Ayah terkena kasus korupsi dan sekarang sedang ditahan”
serentak ibu langsung kaget dan menyebabkan serangan jatungnya kambuh. Langsung ku bawa ibu kerumah sakit. Disana perawat langsung membwa ibu ke ruang perawatan. Aku ingin masuk namun dilarangnya. Ku tunggu ibu disebuah kursi dimana para keluarga pasien lain menunggu hingga ku dapati seorwng dokter keluar dari kamar perawatwn ibuku
“dok bagaimama keadaan ibuku?”
“beliau mulai membaik untung anda cepat membawanya kesini”
aku lega.
Keesokan harinya aku langsung menjalankan mobilku dan tujuan ku adalah kantor polisi.tiba disana aku lansung menanyakan pada polisi penjaga dimana ayahku di tahan. Beliau pun mengantarkan aku kesebuah ruang tunggu dan tak lama kemudian tibalah seorang pria dan itu adalah ayahku.ku bicarakan semuanya baik-baik dan ku coba tanyakan semuanya tapi ayahku tak menyahut dan hanya bisa diam.Hal itu memnbuat ku geram,ingin sekali kutampar muka ayahku tapi itu tak ku lakukan karena aku masih menghormatinya.akhirnya waktu perptemuan pun habis dan pak polisi pun memberitahukan bahwa ayahku akan disidang minggu depan.
hari pun berlalu tak terasa sidang pun dimulai. Dan ayahku dinyatakan bersalah hingga semua harta kami pun terpaksa diserahkan pada pemerintah.
dor……..suara itu seakan mengejutkan ku hingga membuat lamunan ku buyar, dan aku pun menoleh ternyata itu ibuku. Beliau menyuruhku masuk karena hari sudah sore.itulah sebagian dari pengalaman hidupku yang kian membuat aku seperti sekarang ini, dan aku menyesalinya tapi sudahlah waktu akn terus berputar dan semua tak akn pernah kembali dan yang harus kulakukan bagaimna membantu ibu untuk menghadapi kehidupan ini. Oh ya aku juga tak tau lagi di mana sahabatku yang lain mungkin mereka telah melupakan ku dan Dinda? mungkin sekarang dia telah menjadi orang yang sukses.

Oleh: Hairullah